Pengertian IT Forensik
Menurut Wikipedia, IT forensic atau forensic computer atau forensic
digital adalah cabang forensic, TI forensic berkaitan dengan
penyelidikan insiden yang mencurigakan yang melibatkan IT sistem dan
penentuan fakta-fakta dan pelaku akuisisi, analisis, dan evaluasi jejak
digital dalam sistem computer.
Secara umum IT forensic adalah ilmu yang berhubungan dengan pengumpulan
fakta dan bukti pelanggaran keamanan sistem informasi serta validasinya
menurut metode yang digunakan (misalnya metode sebab-akibat).
IT forensic bertujuan untuk mendapatkan fakta-fakta obyektif dari sebuah
insiden / pelanggaran keamanan sistem informasi. Fakta-fakta tersebut
setelah diverifikasi akan menjadi bukti-bukti envidence yang akan
digunakan dalam proses hukum.
Tools atau perangkat forensic adalah perangkat lunak yang dibuat untuk
mengakses data. Perangkat ini digunakan untuk mencari berbagai informasi
dalam hard drive, serta menjebol password dengan memecahkan enkripsi.
Yang digunakan pada IT forensic dibedakan menjadi 2 yaitu hardware dan
software. Dilihat dari sisi hardware, spsifikasi yang digunakan harus
mempunyai kapasitas yang mumpuni seperti :
Hardisk atau storage yang mempunya kapasitas penyimpanan yang besar
Memory RAM antara (1-2 GB)
Hub.sitch atau LAN, serta
Laptop khusus untuk forensic workstations.
Jika dilihat dari sisi software yang digunakan harus khusus dan memiliki
kemampuan yang memadai untuk melakukan IT forensic seperti :
Write-Blocking Tools untuk memproses bukti-bukti
Text Search Utilities (dtsearch) berfungsi sebagai alat untuk mencari koleksi dokumen yang besar.
Hash Utility ( MD5sum) berfungsi untuk menghitung dan memverifikasi 128-bit md5 hash, untuk sidik jari file digital.
Forensic Acqusition tools (encase) digunakan oleh banyak penegak hokum
untuk investigasi criminal, investigasi jaringan, data kepatuhan, dan
penemuan elektronik.
Spy Anytime PC Spy digunakan untuk memonitoring berbagai aktifitas
computer, seperti : seperti: website logs,keystroke logs, application
logs, dan screenshot logs.
Tahap dalam Komputer Forensik
Pengumpulan data
Pengumpulan data bertujuan untuk meng i den tifikasi berbagai sumber
daya yang dianggap penting dan bagaimana semua data dapat terhimpun
dengan baik.
Pengujian Data
Pengujian mencakup proses penilaian dan meng-ekstrak berbagai informasi
yang relevan dari semua data yang dikumpulkan. Tahap ini juga mencakup
bypassing proses atau meminimalisasi berbagai feature sistem operasi dan
aplikasi yang dapat menghilangkan data, seperti kompresi, enkripsi, dan
akses mekanisme kontrol. Cakupan lainnya adalah meng alokasi file,
mengekstrak file, pemeriksanan meta data, dan lain sebagainya.
3. Analisis
Analisis dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan sejumlah metode.
Untuk memberikan kesimpulan yang berkualitas harus didasarkan pada
ketersediaan sejumlah data atau bahkan sebaliknya, dengan menyimpulkan
bahwa “tidak ada kesimpulan”. Hal tersebut sa ngat dimungkinan kan.
Tugas analisis ini mencakup berbagai kegia tan, seperti identifikasi
user atau orang di luar pengguna yang terlibat secara tidak langsung,
lokasi, perangkat, kejadiaan, dan mempertimbangkan bagaimana semua
komponen tersebut saling terhubung hingga mendapat kesimpulan akhir.
4. Dokumentasi dan laporan
Mengingat semakin banyak kasus-kasus yang terindikasi sebagai
cybercrime, maka selain aspek hukum maka secara teknis juga perlu
disiapkan berbagai upaya preventif terhadap penangulangan kasus
cybercrime. Komputer forensik, sebagai sebuah bidang ilmu baru kiranya
dapat dijadikan sebagai dukungan dari aspek ilmiah dan teknis dalam
penanganan kasus-kasus cybercrime.
Kedepan profesi sebagai investigator komputer forensik adalah sebuah
profesi baru yang sangat dibutuhkan untuk mendukung implementasi hukum
pada penanganan cybercrime. Berbagai produk hukum yang disiapkan untuk
mengantisipasi aktivitas kejahatan berbantuan komputer tidak akan dapat
berjalan kecuali didukung pula dengan komponen hukum yang lain. Dalam
hal ini computer forensik memiliki peran yang sangat penting sebagai
bagian dari upaya penyiapan bukti-bukti digital di persidangan.
IT Forensik menurut para ahli
Menurut Noblett, yaitu berperan untuk mengambil, menjaga, mengembalikan,
dan menyajikan data yang telah diproses secara elektronik dan disimpan
di media komputer.
Menurut Judd Robin, yaitu penerapan secara sederhana dari penyidikan
komputer dan teknik analisisnya untuk menentukan bukti-bukti hukum yang
mungkin.
Menurut Ruby Alamsyah (salah seorang ahli forensik IT Indonesia),
digital forensik atau terkadang disebut komputer forensik adalah ilmu
yang menganalisa barang bukti digital sehingga dapat
dipertanggungjawabkan di pengadilan. Barang bukti digital tersebut
termasuk handphone, notebook, server, alat teknologi apapun yang
mempunyai media penyimpanan dan bisa dianalisa.
IT Forensik adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan pengumpulan fakta
dan bukti pelanggaran keamanan sistem informasi serta validasinya
menurut metode yang digunakan (misalnya metode sebab-akibat).
Fakta-fakta tersebut setelah diverifikasi akan menjadi bukti-bukti yang
akan digunakan dalam proses selanjutnya (proses hukum). Selain itu juga
diperlukan keahlian dalam bidang IT (termasuk diantaranya hacking) dan
alat bantu (tools) baik hardware maupun software untuk membuktikan
pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam bidang teknologi sistem
informasi tersebut.
Kegunaan dari IT Forensik
Untuk mengamankan dan menganalisa bukti-bukti digital.
Untuk mendapatkan fakta-fakta obyektif dari sebuah insiden / pelanggaran
keamanan, penyelidikan terstruktur sambil mempertahankan rantai
didokumentasikan bukti untuk mencaritahu persis apa yang terjadi pada
komputer dan siapa yang bertanggung jawab untuk itu, kemudian
fakta-fakta tersebut setelah diverifikasi akan menjadi bukti-bukti
(evidence) yang akan digunakan dalam proses hukum sistem informasi.
Untuk membantu memulihkan, menganalisa, dan mempresentasikan
materi/entitas berbasis digital atau elektronik sedemikian rupa sehingga
dapat dipergunakan sebagai alat bukti yang sah di pengadilan
Untuk mendukung proses identifikasi alat bukti dalam waktu yang relatif
cepat, agar dapat diperhitungkan perkiraan potensi dampak yang
ditimbulkan akibat perilaku jahat yang dilakukan oleh kriminal terhadap
korbannya, sekaligus mengungkapkan alasan dan motivitasi tindakan
tersebut sambil mencari pihak-pihak terkait yang terlibat secara
langsung maupun tidak langsung dengan perbuatan tidak menyenangkan
dimaksud.
Pengetahuan yang dibutuhkan dalam IT Forensik
Dasar-dasar hardware dan pemahaman bagaimana umumnya sistem operasi bekerja
Bagaimana partisi drive, hidden partition, dan di mana tabel partisi bisa ditemukan pada sistem operasi yang berbeda
Bagaimana umumnya master boot record tersebut dan bagaimana drive geometry
Pemahaman untuk hide, delete, recover file dan directory bisa
mempercepat pemahaman pada bagaimana tool forensik dan sistem operasi
yang berbeda bekerja.
Familiar dengan header dan ekstension file yang bisa jadi berkaitan dengan file tertentu
Contoh kasus yang berkaitan dengan IT Forensik
Kasus suap daging sapi yang melibatkan salah satu anggota DPR, bukti di
pengadilan yang diajukan oleh jaksa penuntut umum adalah rekaman suara
orang tersebut. Rekaman suara tersebut tentunya bersifat digital dan
dibutuhkan ahli dalam hal ini IT Forensik untuk mensortir bagian mana
yang dapat dijadikan bukti, membuktikan percakapan tersebut asli serta
menjaga barang bukti agar tetap valid dan dapat memberatkan pelaku.
Ruby Alamsyah yang saat ini telah menjadi salah seorang ahli IT
Forensics yang terkenal di Indonesia. Kebetulan kasus ini menjadi kasus
pertama yang ia tangani yaitu kasus artis Alda, yang dibunuh di sebuah
hotel di Jakarta Timur. Untuk tahap awal ia menganalisa video CCTV yang
terekam di sebuah server. Server itu memiliki hard disk. Kemudian ia
memeriksanya untuk mengetahui siapa yang datang dan ke luar hotel.
Sayangnya, saat itu kepedulian terhadap digital forensik dapat dikatakan
belum ada sama sekali. Jadi pada hari kedua setelah kejadian
pembunuhan, Ruby ditelepon untuk diminta bantuan menangani digital
forensik. Sayangnya, kepolisian tidak mempersiapkan barang bukti yang
asli dengan baik. Barang bukti itu seharusnya dikarantina sejak awal,
dapat diserahkan kepada Ruby bisa kapan saja asalkan sudah dikarantina.
Dua minggu setelah peristiwa, alat tersebut diserahkan kepada Ruby, tapi
saat diperiksa alat tersebut ternyata sejak hari kedua kejadian sampai
diterima masih berjalan merekam. Akhirnya tertimpalah data yang penting
karena CCTV di masing-masing tempat/hotel berbeda settingnya. Akibat
tidak waspada, barang bukti pertama tertimpa sehingga tidak berhasil
diambil datanya.
Polri membuka isi laptop Noordin M. Top tanggal 29 September 2009 dalam
penggerebekan di kota Solo. Di dalamnya terdapat video rekaman dua
’pengantin’ dalam ledakan bom di Mega Kuningan yaitu Dani Dwi Permana
dan Nana Ichwan Maulana. Pada video tersebut terekam aktifitas keduanya
yang didampingi oleh Syaifuddin Zuhri telah melakukan dua kali ’field
tracking’ atau survei pada target sasaran pemboman yaitu Hotel JW
Marriot dan Ritz Carlton. Hal ini dikatakan oleh Kadiv Humas Polri Irjen
Nanan Sukarna melalui ’digital evidence’ yang ditemukan.
Survei pertama dilakukan pada tanggal 21 Juni 2009 sekitar pukul 07.33,
mereka bertiga memantau lokasi peledakan. Mereka berada di lapangan
sekitar lokasi kedua hotel tersebut. Pada tanggal 28 Juni 2009 survei
kedua dilakukan sekitar pukul 17.40. survei tersebut merupakan kunjungan
terakhir sebelum pemboman dilakukan. Syaifuddin Zuhri mengatakan
Amerika, Australia, dan Indonesia hancur sebagai tujuan utama peledakan
bom.
Dalam laptop milik Noordin M. Top terdapat tulisan dari Saefudin Jaelani
yang berisi pembagian tugas seperti Ketua, Bendahara, Pencari Senjata,
dll serta keterangan terkait dengan dijadikannya Amerika dan Australia
sebagai target peledakan. Hal ini dikemukakan oleh Kombes Petrus Golose.
Petrus menambahkan bahwa Saefudin merupakan orang penting dalam
jaringan Noordin yakni sebagai pemimpin strategis Al-Qaeda kawasan Asia
Tenggara sejak tahun 2005. Pada pemboman yang terjadi tanggal 17 Juli
2009 tersebut, Saefudin berperan sebagai pemimpin lapangan sekaligus
perekrut pelaku bom.
Contoh dari sikap profesionalisme yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi sistem informasi
Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis
Profesional diasumsikan mempunyai pengetahuan teoretis yang ekstensif
dan memiliki keterampilan yang berdasar pada pengetahuan tersebut dan
bisa diterapkan dalam praktek.
Asosiasi professional
Profesi biasanya memiliki badan yang diorganisasi oleh para anggotanya,
yang dimaksudkan untuk meningkatkan status para anggotanya. Organisasi
profesi tersebut biasanya memiliki persyaratan khusus untuk menjadi
anggotanya.
Pendidikan yang ekstensif
Profesi yang prestisius biasanya memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi.
Ujian kompetensi
Sebelum memasuki organisasi profesional, biasanya ada persyaratan untuk
lulus dari suatu tes yang menguji terutama pengetahuan teoretis.
Pelatihan institutional
Selain ujian, juga biasanya dipersyaratkan untuk mengikuti pelatihan
istitusional dimana calon profesional mendapatkan pengalaman praktis
sebelum menjadi anggota penuh organisasi. Peningkatan keterampilan
melalui pengembangan profesional juga dipersyaratkan.
Lisensi
Profesi menetapkan syarat pendaftaran dan proses sertifikasi sehingga
hanya mereka yang memiliki lisensi bisa dianggap bisa dipercaya.
Otonomi kerja
Profesional cenderung mengendalikan kerja dan pengetahuan teoretis mereka agar terhindar adanya intervensi dari luar.
Kode etik
Organisasi profesi biasanya memiliki kode etik bagi para anggotanya dan
prosedur pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan.
Mengatur diri
Organisasi profesi harus bisa mengatur organisasinya sendiri tanpa
campur tangan pemerintah. Profesional diatur oleh mereka yang lebih
senior, praktisi yang dihormati, atau mereka yang berkualifikasi paling
tinggi.
Layanan publik dan altruism
Diperolehnya penghasilan dari kerja profesinya dapat dipertahankan
selama berkaitan dengan kebutuhan publik, seperti layanan dokter
berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat.
Status dan imbalan yang tinggi
Profesi yang paling sukses akan meraih status yang tinggi, prestise, dan
imbalan yang layak bagi para anggotanya. Hal tersebut bisa dianggap
sebagai pengakuan terhadap layanan yang mereka berikan bagi masyarakat.
Sikap profesionalisme Misalnya :
Pembuatan sebuah program aplikasi. Seorang profesional tidak dapat
membuat program semaunya, ada beberapa hal yang harus ia perhatikan
seperti untuk apa program tersebut nantinya digunakan oleh kliennya atau
user, ia dapat menjamin keamanan (security) sistem kerja program
aplikasi tersebut dari pihak-pihak yang dapat mengacaukan sistem
kerjanya (misalnya: hacker, cracker, dll).
Seorang IT harus mempunyai kemampuan / keterampilan dalam menggunakan
peralatan yang berhubungan dengan bidang pekerjaan IT. Seorang IT harus
mengetahui dan mempraktekkan pengetahuan IT-nya ke dalam pekerjaannya,
mempunyai ilmu dan pengalaman dalam menganalisa suatu software atau
program. Bekerja di bawah disiplin kerja, mampu melakukan pendekatan
disipliner, mampu bekerja sama, cepat tanggap terhadap masalah client.
Memiliki ilmu dan pengalaman dalam membaca situasi dan menganalisis
masalah agar dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Memiliki
sikap berorientasi ke depan sehingga dapat mengantisipasi perkembangan
lingkungan. Bersikap mandiri dan terbuka dalam menyimak dan menghargai
pendapat orang lain namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi diri
dan perkembangannya.
Tokoh dalam IT Forensik
Ruby Alamsyah yang bernama lengkap Ruby Zukri Alamsyah lahir di Jakarta,
23 November 1974; umur 40 tahun adalah seorang ahli digital forensik
Indonesia. Ia sering menjadi saksi ahli di persidangan dan juga sebagai
pelatih sekuriti TI. Saat ini Ruby salah satu orang Indonesia yang
bersertifikasi forensik digital internasional dan merupakan satu-satunya
orang Indonesia sekaligus orang Indonesia pertama yang menjadi anggota
International High Technology Crime Investigation Association (HTCIA)
Pendidikan
Ruby
menempuh pendidikan menengahnya di SMA Negeri 4 Jakarta, lalu meneruskan
pendidikan tinggi di Universitas Gunadarma, Jakarta untuk mendapatkan
gelar S-1 Teknologi Informasi. Sedangkan gelar S-2 dia raih di Teknologi
Informasi Universitas Indonesia, dan melanjutkan program doktor di
Institut Teknologi Bandung.
Kasus yang ditangani
Pembunuhan aktivis Munir
Pembunuhan artis Alda Risma
Pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen
Kasus kematian Ketua DPRD Sumatera Utara, Aziz Angkat
Kasus penggelapan pajak
Pencucian uang
Penggelapan kartu kredit
ETIKA DAN PROFESIONALISME TSI
DALAM BIDANG IT FORENSIK
DI SUSUN OLEH:
Annisa Selandia
Claudia Galuh
Reza Dwi Saputro
Suhendra wiranata
Vebbie Agustian
Kelas : 4KA07
Daftar Pustaka
http://lysnov.blogspot.com/2010/05/definisi-dan-tools-it-forensik.html http://hiddengrazz.blogspot.com/2014/05/it-forensic.html
http://adi-adiholic.blogspot.com/2013/10/makalah-mengenai-it-forensik.html
http://cumiyu21.blogspot.com/2012/11/makalah-cybercrime.html
Wednesday, 24 June 2015
Thursday, 14 May 2015
Pretest Estimasi- Pengelolaan Proyek Sistem Informasi
Pretest Estimasi
Apa
yang dimaksud dengan “Estimasi” ? Carilah satu contoh yang berhubungan dengan
estimasi, tuliskan pada blog Anda yang terkoneksi dengan Studentsite.
Jawaban :
Pengertian Estimasi
Estimasi
merupakan sebuah proses pengulangan. Pemanggilan ulang estimasi yang pertama
dilakukan selama fase definisi, yaitu ketika Anda menulis rencana pendahuluan
proyek. Hal ini perlu dilakukan, karena anda membutuhkan estimasi untuk
proposal. Tetapi berdasarkan statistik dari DEC, NASA, TRW, dan lembaga yang
lainnya, menunjukkan bahwa keakuratan estimasi yang dilakukan memiliki point
sebesar 50% - 100%. Setelah fase analisis direncanakan ulang. Anda harus
memeriksa estimasi dan merubah rencana pendahuluan proyek menjadi rencana akhir
proyek. Pada tahap ini keakuratan estimasi Anda menjadi berkurang, yaitu
sekitar 25% - 50%. Setelah dikerjakan sampai tingkat menengah, Anda periksa
kembali estimasi tersebut. Dengan menggunakan pengetahuan yang didapat seiring
dengan waktu, keakuratan estimasi tersebut hanya mencapai 10%. Meskipun tidak
bisa dikatakan sebagai aktivitas eksplisit dalam fase yang lain, rencana untuk
memperbaiki estimasi setiap waktu, memerlukan pengetahuan yang baru.
Contoh Sistem Estimasi
Biaya Dan Usaha Proyek Pengembangan Software Sistem Informasi Bisnis
Estimasi
ukuran software merupakan suatu
akrifitas yang komplek dan sukar berdasarkan pada beberapa alasan seperti
kemampuan programmer, faktor
lingkungan dan sebagainya. Tetapi karena tindakan ini harus dilakukan dan untuk
mendapatkannya dengan menggunakan ukuran seperti jumlah baris program (Source lines of code/SLOC) dan function Points.
Pembuatan Model
Estimasi
Untuk
pembuatan model estimasi biaya dan usaha proyek pengembangan software pertama-tama dilakukan analisa
parameter yang berpengaruh terhadap kedua vaiabel tersebut. Untuk menguji
keterkaitan atau pengaruh dari variabel, digunakan perhitungan nilai kolerasi
dari setiap variabel yang di analisa. Adapun tabel kolerasi dari semua variabel
hasil observasi adalah
Tabel Nilai Kolerasi Antar Variable Model Estimasi
Dari
tabel di atas terlihat bahwa nilai kolerasi antara effort dan function point
bernilai 0,12, sedangkan kolerasi antara effort
dengan total faktor kompleksitas bernilai 0,22. Dari nilai kolerasi ini dapat
disimpulkan bahwa nilai usaha (effort)
proyek pengembangan software
dipengaruhi oleh nilai besaran function
point dan tingkat kompleksitas proyek software.
Artinya semakin tinggi nilai function
point dan tingkat kompleksitas proyek software
akan membutuhkan effort yang semakin
tinggi pula. Hal yang sama juga dapat dilihat tingkat keterkaitan antara
variabel biaya dengan function point yang
mempunyai nilai korelasi sebesar 0,38. artinya besaran function point dari suatu proyek pengembangan software akan sangat berpengaruh terhadap besaran biaya yang
digunakan. Adapun hasil pemodelan data biaya (cost) yang dikaitan dengan function
point (FP) adalah seperti gambar berikut:
Grafik Model Biaya (Cost) dengan Function Points
Dari
gambar di atas terlihat bahwa hubungan antar biaya (cost) dapat dimodelkan dengan grafik eksponensial. Artinya nilai
peningkatan biaya yang dibutuhkan proyek pengembangan software bertambah secara eksponensial terhadap penambahan besaran function point dari proyek software yang akan dikembangkan. Adapun model
eksponential yang diperoleh dari analisa data hasil observasi adalah :
Biaya (cost)
= 8,0757*exp(0,0087*FP)
Dimana
FP adalah function point dari proyek software yang akan dikembangkan.
Grafik Model Usaha (Effort) dengan FP secara linier
Secara
linier regresi dapat direpresentasikan keterhubungan tersebut sebagai rumus :
Biaya (cost)
= 3,7076 + 0,4138*FP
Sedangkan
keterhubungan antara usaha (effort)
dengan function point dapat
diperlihatkan dengan beberapa model berikut:
Grafik Model Usaha (Effort) dengan FP secara Logaritmik
SUMBER
:
Posttest Estimasi- Pengelolaan Proyek Sistem Informasi
Posttest Estimasi
Sebutkan
teknik-teknik estimasi pada Proyek Sistem Informasi. Tuliskan pada blog Anda
yang terkoneksi pada Studentsite.
Jawaban :
Teknik-teknik
estimasi yang digunakan ada 3 (tiga), yaitu : keputusan professional, sejarah,
dan rumus-rumus.
·
Keputusan
Profesional
Katakanlah,
Anda adalah seorang yang memiliki pengalaman yang luas dalam memprogram “report generation modules”. Anda melakukan dengan
pendekatan design report tersebut dan
memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat program tersebut.
Setelah mempelajari desain program selama 5 menit, programmer lalu menutup matanya selama 5 menit (Dia tidak tidur,
tetapi berhitung), dan kemudian mengatakan “15 hari”. Inilah yang disebut
dengan Keputusan Profesional Murni.
Keuntungan dari teknik ini adalah cepat, dan jika
sesorang sudah ahli, dalam teknik ini, maka estimasinya pasti akan lebih
akurat. Sedangkan kerugian dari teknik ini yaitu Anda membutuhkan seorang ahli
tersebut akan bekerja keras untuk mendapatkan estimasi yang tepat. Lagi pula,
estimasi yang didapat adalah untuk jangka waktu yang lama dan ini harus
dikerjakan oleh seorang ahli. Hal ini tidak dapat tergantung hanya pada ahli
tersebut, jika yang lain ingin mengerjakannya tidak menjadi masalah. Tapi, hal
ini sangat berbahaya jika hanya mempercayakan kepada seseorang yang memiliki
sedikit pengetahuan dalam bidang ini.
·
Sejarah
Jalan keluar dari
ketergantungan pada orang dan untuk membuat estimasi lebih khusus yaitu Anda harus
mengerti tentang sejarahnya. Tulislah berapa lama masing-masing tugas dapat diselesaikan
dan siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut. Anda dapat membandingkan
tugas yang akan di estimasi dengan tugas yang sama yang dikerjakan lebih awal,
setelah itu mulailah dengan melakukan estimasi. Hal ini dimaksudkan agar Anda
menjabarkan suatu proyek ke dalam beberapa tugas yang biasanya diulang dan
mudah untuk dibandingkan. Untuk memprogramnya, mungkin generasi dalam bentuk
formulir input, sebuah laporan,
perhitungan rumus-rumus, dan lain-lain. Perusahaan atau departemen akan membuat
tipe proyek yang sama. Carilah dasar untuk membangun “blocks” dan dokumen yang dibutuhkannya. Jika Anda sangat
intelligent, lakukan langkah pertama dan bangunlah blocks tersebut dalam bentuk yang siap pakai. Anda dapat menduga bahwa
sebuah penggunaan ulang ternyata lebih akurat jika dibandingkan dengan
penulisan ulang. Dalam membandingkan satu apel dengan apel yang lainnya, Anda
harus menuliskan perbedaannya. Catatan statistik dari IBM dan DEC memperlihatkan
bahwa kemungkinan perbandingan antara produksi komputer yang baik dengan yang
buruk adalah sebesar 8 : 1.
·
Rumus-rumus
Ada beberapa rumus yang
digunakan dalam software estimasi. Sotfware yang baik untuk diketahui yaitu
COCOMO. COCOMO dapat digunakan untuk memperkirakan biaya proyek, usaha (person months), jadwal
(months), dan staf (number of staff)
untuk masing-masing fase berikut ini : Preliminary
Design - our Analysis Phase Detailed Desaign (DD) - our Design Phase Code and
Unit test (CUT) - same as ours System Test - our System Test and Acceptance
Phase. Ada 3 tipe penginputan
dengan COCOMO : pertama, pemasukan biaya bulanan dari staf. Baik staf yang
berkedudukan sebagai programmer,
analis, designer, test staff, administrasi dan technical writer. Gambar dibawah ini menunjukkan sebuah layar penginputan yang digunakan untuk tipe ke dua
dari penginputan. Faktor-faktor ini
mencirikan level keseluruhan dari kelengkapan software yang ada, ukuran dan kemampuan dari komputer yang
digunakan untuk pengembangan, kemampuan menampung dan pengalaman staf, dan juga
pemrograman praktis serta alat-alat yang digunakan.
Tampilan dengan menggunakan software COCOMO
Pada hal ini, Anda
mungkin akan merasa bahwa COCOMO akan melakukan pendugaan yang baik, sejak software ini selalu tepat menentukan
proyek yang lama. Tetapi, kesulitannya yaitu setiap akhir dari penggunaan software ini COCOMO selalu menanyakan
nomor garis yang terdapat pada kode sumber (LOSC). Pada saat itu, Anda telah
memiliki pengetahuan yang cukup mengenai sistem untuk memperkirakan LOSC dengan
teliti, Anda tidak memerlukan beberapa rumus. Namun, Anda hanya memperkirakan
keseluruhan proyek dengan teliti.
SUMBER
:
Saturday, 18 April 2015
Sistem Informasi Perbankan (Perbedaan SKN dengan RTGS)
Antara RTGS dan kliring, sebenarnya keduanya
adalah cara transfer dari bank 1 ke bank yang lain (yang berbeda). Dengan RTGS
dan kliring, uang yang akan kita transfer akan sampai ke rekening bank
penerima, yang tentunya akan terus dihitung ke rekening penerima. Namun, RTGS
dan kliring ada perbedaan waktu proses yang berbeda.
Kliring atau SKN
Kliring atau SKN (Sistem Kliring Nasional) adalah suatu tata cara
perhitungan utang piutang dalam bentuk surat-surat dagang dan surat-surat
berharga dari suatu bank terhadap bank lainnya, dengan maksud agar
penyelesaiannya dapat terselenggara dengan mudah dan aman.
Dengan menggunakan kliring, proses transfer akan lebih lama sampai ke penerima dengan waktu kira-kira 2 hingga 3 hari. Karena apa? Dengan proses kliring, bank pengirim mengirim ke BI dulu, baru dari BI mengirim ke bank penerima.
Dengan proses kliring, kita sebagai pengirim harus bersabar dengan proses penghitungan biaya-biaya transaksi dengan menggunakan proses kliring. Karena, dalam proses kliring, biaya transaksi ahanya ada satu di setiap akhir periode. Maka, penghitungan biaya transaksi tersebut harus diperhitungkan terlebih dahulu higga akhir waktu penyelesain.
Dengan menggunakan kliring, proses transfer akan lebih lama sampai ke penerima dengan waktu kira-kira 2 hingga 3 hari. Karena apa? Dengan proses kliring, bank pengirim mengirim ke BI dulu, baru dari BI mengirim ke bank penerima.
Dengan proses kliring, kita sebagai pengirim harus bersabar dengan proses penghitungan biaya-biaya transaksi dengan menggunakan proses kliring. Karena, dalam proses kliring, biaya transaksi ahanya ada satu di setiap akhir periode. Maka, penghitungan biaya transaksi tersebut harus diperhitungkan terlebih dahulu higga akhir waktu penyelesain.
RTGS
RTGS atau Real-Time Gross
Settlement, diartikan sebagai proses transfer yang realtime. Waktu itu juga
bisa langsung sampai kepada penerima. Untuk RTGS ini, meski baru mulai tahun
2000 diperkenalkan, sudah sangat membantu dalam hal transfer ke bank lain. Karena
apa? Dengan RTGS, biaya transaksi diperhitungkan secar individual, meski dengan
RTGS ada biaya transfer yang lebih mahal
Thursday, 8 January 2015
Postest v-clas Analisis Kinerja Sistem (Kendali dan Audit SI)
soal:
Pengendalian TI didefinisikan sebagai suatu pernyataan hasil yang diinginkan atau maksud yang dicapai oleh prosedur pengendalian implementasi dalam kegiatan TI khusus.
Terdapat 15 area pengendalian, sebut dan jelaskan.
jawab:
sumber: farida.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/16724/Bab-7-Kendali-dan-Audit-SI-_KASI_.pdf
Pengendalian TI didefinisikan sebagai suatu pernyataan hasil yang diinginkan atau maksud yang dicapai oleh prosedur pengendalian implementasi dalam kegiatan TI khusus.
Terdapat 15 area pengendalian, sebut dan jelaskan.
jawab:
1. Integritas Sistem adalah sebuah sistem yang di dalamnya terdiri atas
pilar-pilar yang mana di dalamnya terdapat pelaksanaan yang menjunjung tinggi
integritas demi institusi tersebut.
2. Manajemen Sumber Daya adalah suatu proses menangani berbagai masalah
pada ruang lingkup karyawan, pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya
untuk dapat menunjang aktivitas organisasi atau perusahaan demi mencapai tujuan
yang telah ditentukan.
3. Pengendalian Perubahan S/W Aplikasi
dan S/W sistem
·
Menentukan adanya keterlibatan dan persetujuan user
dalam hal adanya perubahan terhadap s/w aplikasi dan s/w sistem
·
Setiap pengembangan dan perbaikan aplikasi harus
melalui proses formal dan di dokumentasi serta telah melalui tahapan-tahapan
pengembangan sistem yang dibakukan dan disetujui.
4. Backup dan Recovery
·
Demi kelangsungan usaha, harus tersedia data
processing disaster recovery planning (rencana pemulihan data dan pusat sistem
informasi apabila terjadi kehancuran),
·
Baik berupa backup dan pemulihan normal, maupun
rencana contingency untuk kerusakan pusat SI (lokasi gedung, peralatanya,
SDM-nya maupun manualnya).
5. Contigency Planning
·
Perencanaan yang komprehenshif di dalam mengantisipasi
terjadinya ancaman terhadap fasilitas pemrosesan SI
·
Dimana sebagian besar komponen utama dari disaster
recovery plan telah dirumuskan dengan jelas, telah di koordinasikan dan
disetujui, seperti critical application systems, identifikasi peralatan dan
fasilitas penunjang H/W, sistem S/W dan sebagainya.
6. System S/W Support
·
Pengukuran pengendalian dalam pengembangan,
penggunaan, dan pemeliharaan dari S/W SO, biasanya lebih canggih dan lebih
cepat perputarannya dibandingkan dengan S/W aplikasi dengan ketergantungan yang
lebih besar kepada staf teknik untuk integritas fungsionalnya.
·
Pengukuran kendali pengamanan aplikasi individu maupun
pengamanan logika sistem secara menyeluruh (systemwide logical security).
7. Dokumentasi
·
Integritas dan ketersediaan dokumen operasi,
pengembangan aplikasi, user dan S/W sistem.
·
Diantaranya dokumentasi program dan sistem, buku
pedoman operasi dan schedule operasi.
·
Untuk setiap aplikasi sebaiknya tersedia dokumentasi
untuk tiap jenjang user.
8. Pelatihan atau Training
·
Adanya penjenjagan berdasarkan kemampuan untuk seluruh
lapisan manajemen dan staf, dalam hal penguasaannya atas aplikasi-aplikasi dan
kemampuan teknisnya.
·
Serta rencana pelatihan yang berkesinambungan.
9. Administrasi
·
Struktur organisasi dan bagannya, rencana strategis,
tanggungjawab fungsional, job description, sejalan dengan metoda job accounting
dan/atau charge out yang digunakan.
·
Termasuk didalamnya pengukuran atas proses pengadaan
dan persetujuan untuk semua sumber daya SI.
10. Pengendalian Lingkungan dan Keamanan Fisik
·
Listrik, peyejuk udara, penerang ruangan, pengaturan
kelembaban, serta kendali akses ke sumber daya informasi.
·
Pencegahan kebakaran, ketersediaan sumber listrik
cadangan,
·
Juga pengendalian dan backup sarana telekomunikasi.
11. Operasi
·
Diprogram untuk merespon permintaan/keperluan SO.
·
Review atas kelompok SO berdasarkan job schedulling,
review yang terus-menerus terhadap operator, retensi terhadap console log
message, dokumentasi untuk run/restore/backup atas seluruh aplikasi.
Daftar personel, dan nomor
telepon yang harus dihubungi jika muncul masalah SO, penerapan sistem sift dan
rotasi serta pengambilan cuti untuk setiap operator.
12. Telekomunikasi
·
Review terhadap logical and physical access controls,
AKS – Bab VII Halaman : 10
·
Metodologi pengacakan (encryption) terhadap aplikasi
electronic data interchange (EDI).
·
Adanya supervisi yang berkesinambungan terhadap
jaringan komputer dan komitmen untuk ketersediaan jaringan tersebut dan juga
redundansi saluran telekomunikasi.
13. Program Libraries
·
Terdapat pemisahan dan prosedur pengendalian formal
untuk application source code dan compiled production program code dengan yang
disimpan di application test libraries development.
·
Terdapat review atas prosedur quality assurance.
14. Application Support
·
Bahwa proses tetap dapat berlangsung walaupun terjadi
kegagalan sistem.
·
Sejalan dengan kesinambungan proses untuk inisiasi
sistem baru, manajemen
·
proyek, proses pengujian yang menyeluruh antara user
dan staf SI.
·
Adanya review baik formal maupun informal terhadap
tingkat kepuasan atas SDLC yang digunakan.
15. Microcomputer Controls
·
Pembatasan yang ketat dalam pengadaan, pengembangan
aplikasi, dokumentasi atas aplikasi, produksi maupun aplikasi dengan misi yang
kritis, sekuriti logika, dan fisik terhadap microcomputer yang dimiliki,
·
Serta pembuatan daftar inventaris atas H/W, S/W, serta
legalitas dari S/W untuk menghindari tuntutan pelanggaran hak cipta
sumber: farida.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/16724/Bab-7-Kendali-dan-Audit-SI-_KASI_.pdf
Pretest v-class Analisis Kinerja Sistem (Kendali dan Audit SI)
soal:
Pengendalian internal telah mengalami perubahan dari konsep 'ketersediaan pengendalian' ke konsep 'proses pencapaian tujuan'.
Apakah maksud dari konsep 'Proses Pencapaian Tujuan' tersebut?
jawab:
Pengendalian internal telah mengalami perubahan dari konsep 'ketersediaan pengendalian' ke konsep 'proses pencapaian tujuan'.
Apakah maksud dari konsep 'Proses Pencapaian Tujuan' tersebut?
jawab:
Proses Pencapaian Tujuan
Pengendalian
internal telah mengalami perubahan dari konsep “ketersediaan pengendalian” ke
konsep “proses pencapaian tujuan”. Berikut ini penjelasannya.
Pada
pokok permasalahannya, proses pencapaian tujuan ini melibatkan pengendalian TI
khusus. Pengendalian TI ini bisa didefinisikan sebagai pernyataan hasil yang
diinginkan atau maksud yang ingin dicapai sesuai dengan prosedur pengendalian
TI khusus.
Adapun tujuan pengendalian
internal adalah:
1.
Memeriksa ketelitian dan kebenaran data
yang menghasilkan laporan-laporan yang dapat diandalkan.
2.
Efektivitas dan efesiensi dalam operasi,
yaitu efektif dalam mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan dan efisien
dalam pemakaian sumber daya yang tersedia.
3.
Membantu agar tidak terjadi penyimpangan
terhadap hokum dan peraturan yang berlaku.
4.
Mengamankan harta milik organisasi atau
perusahaan termasuk data yang tersedia.
Pengendalian internal
memiliki dua macam pendekatan;
A. Pendekatan Statis
1.
Berdasarkan pertimbangan pada pembagian
wewenang didalam pengelolaan perusahaan atau entitas pada masa lalu yang
bersifat sentralisasi.
2.
Metoda sentralisasi artinya bahwa
intelektualitas berada pada pucuk pimpinan perusahaan. Semakin rendah posisi
seseorang, maka semakin sedikit pengetahuannya tentang pencapaian tujuan
perusahaan atau hanya sekedar menjalankan perintahnya saja.
3.
Pendekatan statis ini akan berorientasi
pada sistem yang dapat dengan mudah ditelusuri keberadaannya.
B. Pendekatan Dinamis
1.
Pengendalian internal sebagai sebuah
proses.
2.
Konsep ini terkait dengan perubahan
metoda pengelolaan sumber daya pada organisasi yang bersangkutan.
3.
Perubahan metoda pengelolaan tersebut adalah
metoda pengelolaan manajemen melalui kekuasaan ke metoda pengelolaan manajemen
melalui tujuan.
4.
Hal tersebut didorong oleh:
-
Peningkatan kualitas SDM, sehingga
intensitas (penggunaan berlebihan) pengendalian intern dapat dikurangi.
-
Spesialisasi, dapat meningkatkan kinerja
seseorang.
-
Kepuasan kerja dapat meningkatkan
produktivitas.
-
Persaingan yang ketat membutuhkan
pengembilan keputusan yang cepat.
Berdasarkan perkembangan di bidang
SDM tersebut, konsep pengendalian intern mengalami perubahan dari konsep
ketersediaan pengendalian intern beralih ke konsep proses pencapaian tujuan.
Dari konsep baru tersebut,
intelektualitas tidak lagi terletak pada pucuk pimpinan, melainkan terletak di
lapisan bawah. Mereka yang dekat dengan konsumenlah yang paling mengerti
kebutuhan pasar. Peran manager diperlukan sebagai konduktor untuk menjaga
keseimbangan permintaan dari konsumen dan juga kegiatan yang dilakukan oleh
bagian operasional. Manager tersebut harus memiliki pengetahuan teknis seperti
pegawai biasanya, untuk mengatur aktivitas operasional agar berjalan dengan seharusnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)

%2Bdengan%2BFunction%2BPoints.jpg)
%2Bdengan%2BFP%2Bsecara%2Blinier.jpg)
%2Bdengan%2BFP%2Bsecara%2BLogaritmik.jpg)
