Sunday, 8 June 2014

RESENSI NOVEL BUNGA CANTIK DIBALIK SALJU



BUNGA CANTIK DIBALIK SALJU


from: gapuramitrasejati.com reupload by: kesempok.blogspot.com

Judul               : Bunga Cantik di Balik Salju
Penulis             : Titik Andarwati
Penerbit           : Diva Press
Dimensi           : 14 cm x 20 cm
Tebal               : 458 halaman
  1. Sinopsis novel
    Di usia yang masih sangat muda, 19 tahun, Lana telah memutuskan untuk mengasuh Denniz, anak dari sahabatnya yang meninggal sewaktu melahirkan. Ayah si bayi sendiri, Brian, tidak mau mengakui anaknya. Pertentangan dari keluarga Lana jelas terjadi walau akhirnya mereka menerima Denniz dan membantu merawatnya.

    Hidup yang berat bagi Lana. Di usianya yang ke-25, dia memutuskan untuk tinggal sendiri bersama Denniz dan membiayai sendiri hidupnya dengan bekerja sebagai staf pengajar pada sebuah lembaga pendidikan asing.

    Memiliki Denniz selama 6 tahun membuat Lana kebal saat orang-orang menatapnya dengan kagum, iba, sinis, ataupun jijik saat Denniz memanggilnya “mama”. Semua itu tidak mengubah apa pun, dia tetap mencintai Denniz dan menganggap keputusannya untuk mempertahankan Denniz adalah keputusan terhebatnya.

    Cintanya kepada Denniz menjadikan dirinya mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri, termasuk kebutuhan akan seorang laki-laki yang seharusnya mulai ia pikirkan untuk mendampingi hidupnya kelak.

    Hingga suatu hari, hadirlah sosok Dhimas, laki-laki keren dan pujaan banyak wanita memasuki kehidupan Lana. Dhimas yang hanya mengetahui bahwa Lana adalah seorang Ibu dengan satu anak menerima Lana apa adanya, seburuk apapun masa lalu Lana tanpa ia tau keadaan yang sebenarnya.

    Namun tidak semudah itu untuk Lana menerima Dhimas sebagai pendamping hidupnya, serta menjadi pabrik figur seorang Ayah untuk Denniz. Butuh pertimbangan yang tidak sedikit untuk hal itu, hingga ia memutuskan untuk menerima Dhimas sebagai Suaminya.

    Akhirnya, Lana menerima Dhimas, dan mereka segera menikah. Hingga suatu ketika Dhimas mempertemukan Lana dengan keluarga besar Dhimas, terbukalah rahasia besar bahwa sebenarnya Lana belum pernah melahirkan seorang anak dan membuat Dhimas sangat terkejut.

    Lana dan Dhimas akhirnya resmi menikah.

  1. Unsur Intrinstik Novel
    1. Tema
      • Seorang wanita yang kuat dan tegar, memiliki hati yang baik untuk merawat seorang bayi sahabatnya ketika ia sendiri masih sangat muda.
      • Perjuangan hidup seorang wanita yang mandiri.
      • Wanita yang mengagumkan, rela dicap 'tidak benar' oleh tetangga-tetangganya demi merawat Denniz.
    2. Tokoh
      • Tokoh Utama : Maulana Andara Restu
      • Tokoh Kedua : Denniz
      • Tokoh Ketiga : Dhimas Mahesa
      • Tokoh Pembantu : Megan, Fany, Dhyas, Yudha, Rindra, Pak Sinclair, Ruben, Yudha, Brian
      • Tokoh Piguran : Pak Rudi, Bu Rina, Hendra, Diki, Anggra, H. Bakrie, Emi
    3. Penokohan :
      • Maulana Anadara Restu : Sosok perempuan yang kuat dan tegar, keinginannya untuk mandiri sejak muda, dan sangat menyayangi Emi sahabatnya yang telah meninggal, juga sangat menyayangi anak angkatnya yaitu Denniz.
      • Denniz : Anak kecil yang lucu, pintar, cuek dan manja.
      • Dhimas Mahesa : Sosok laki-laki tampan, cuek dan mapan. Ia sangat menyayangi Denniz dan Lana.
      • Penokohan lainnya.
    4. Alur
      Alur maju mundur, dimana novel menceritakan keadaan Lana saat itu kemudian harus kembali kepada masa lalu untuk menjelaskan alasan mengapa Lana akhirnya membesarkan Denniz sebagai seorang Ibu. Dan akhirnya kembali maju dengan menceritakan Lana dan Dhimas akhirnya menikah.
    5. Sudut Pandang
      Sudut pandang orang pertama
    6. Amanat :
      • Tidak ada anak yang dilahirkan dengan keadaan haram. Perbuatan orang tuannya lah yang haram.
      • Karena aku mencintai kamu. Perempuan akan lebih bisa bertahan kalau dia dicintai daripada harus mencintai. Dan aku mencintai kamu.
      • Dandelion adalah bunga liar yang kuat. Bahkan, saat tumbuhan lainnya mati, dandelion tetap hidup. Menahun. Dandelion bisa hidup di mana saja asalkan ada sinar matahari. Di sela-sela batu, di dekat rel kereta api, ataupun di retakan-retakan trotoar pun ia bisa hidup. Dan, aku pun ingin seperti itu. Hidup seperti dandelion.
      • Jadilah diri sendiri dan selalu bersyukur tentang apa yang sudah Tuhan berikan.

  1. Keunggulan dan kelemahan novel
    1. Keunggulan Novel
      • Novel ini mengajarkan kita akan apa arti tegar, kuat, mandiri dan cantik sebenarnya
      • Sebuah bacaan menarik yang sangat inspiratif
      • Kata-katanya mudah dipahami
      • Pewatakan tokoh mudah dipahami dan digambarkan secara jelas
      • Alur cerita mudah dipahami meski alur maju mundur, dan alur tersebutlah yang membuat kita menjadi semakin penasaran.
    2. Kelemahan Novel
      • Halaman novel cukup tebal.
      • Ada beberapa sesi cerita yang cukup panjang dan sedikit membosankan karena intinya sama saja.

  1. Kesimpulan
    Novel ini pantas dibaca untuk siapa saja, terutama untuk wanita. Sesuai konsep nya yang inspirasional, novel ini memberikan kita banyak inspirasi, pesan dan kesan yang dapat mengalir hingga ke lubuk hati dan pikiran. Sebuah novel yang mudah dipahami karena menggunakan bahasa yang sederhana.

Tuesday, 22 April 2014

SOEGIJA

"Apa artinya terlahir sebagai bangsa yang merdeka jika gagal untuk mendidik diri sendiri?"
Tokoh SOEGIJA
Konon film ini dibuat untuk mengenang 40 tahun wafatnya Almarhum Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, yang meninggal di Steyl, Venlo, Belanda, 22 Juli 1963. Uskup pribumi Indonesia pertama ini dikenal dengan silent diplomacy-nya. Tanpa harus menggunakan kekerasan dan senjata, iman dan semangat kemanusiaannya dapat menjadi panutan yang tak lekang waktu. Menurutnya, menggalang cinta kasih dan keadilan belum cukup, tetapi juga perlu bertempur dengan lembut untuk kemerdekaan. Berkat kegigihannya dalam perjuangan itu, Soegija yang dikenal dengan ucapannya “100 % Katolik dan 100 % Indonesia” ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal Semarang dan diberi gelar Pahlawan Nasional RI.
Film berbudget 12 milyar ini memang mahal, karena bukan cuma menghidupkan kembali sejarah, tapi juga film seni yang menghadirkan keindahan kostum dan setting, dan sekaligus merupakan film drama yang syarat pesan. Garin Nugroho meramu semua unsur dengan apik. Cerita mengalir dengan mulus sehingga drama film ini sangat terasa. Pilihan pemain yang tepat dengan karakter masing-masing memang tidak bisa dipungkiri mampu membawa penonton hanyut. Lagu-lagu keroncong klasik menambah keindahan film ini.
Secara garis besar, film ini dibuat dengan format film perjuangan yang mengambil cerita dari catatan harian Mgr. Albertus SoegijapranataSJ, dari sejak ditahbiskan hingga berakhirnya perang kemerdekaan Indonesia (1940 – 1949). Satu dasawarsa penuh gejolak ini ditandai dengan akhir penjajahan Belanda, dimulainya masa pendudukan Jepang, proklamasi kemerdekaan RI, dan kembalinya Belanda yang ingin merenggut kembali Indonesia, sehingga mulailah perang kemerdekaan Indonesia. dan pendirian Republik Indonesia Serikat pada periode tahun 1947 – 1949. Dengan mengambil latar daerah Yogyakarta dan Semarang, peristiwa-peristiwa tersebut, dan juga peran sertanya dalam meringankan beban penderitaan rakyat di tengah kekacauan perang, dituangkan Soegija dalam renungan-renungan catatan hariannya. Perannya merambah di semua tingkat, baik politik lokal, nasional maupun internasional. Film ini banyak menampilkan tokoh-tokoh nyata tapi difiksikan. Mereka berasal dari Indonesia, Jepang, Belanda, baik sipil maupun militer, dalam peristiwa-peristiwa keseharian yang direkonstruksi dengan cukup detil, termasuk dominasi pemakaian bahasa Belanda, Jepang dan Jawa.
Review Film
Film ini dimulai dengan goresan pena seorang Romo di atas kertas, yang sekaligus menjadi curahan hatinya “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar.” Di masa serba tertekan itu, sang Romo dilantik sebagai Uskup melalui surat yang ditandatangani oleh Mgr. Montini, yang kelak menjadi Paus Paulus VI. Dengan ‘jabatan’ itu, Romo lebih dihormati. Yang datang ke gereja mendengarkan ceramahnya bukan hanya penduduk lokal, tetapi juga orang-orang Belanda. Meski begitu, kesehariannya yang bersahaja dan merakyat, tak berubah.
Film yang dibuat melalui riset panjang ini bukan film misionaris agama Katolik seperti yang banyak diperdebatkan. Tokohnya juga tidak melulu Soegija. Film ini menampilkan sisi humanis yang masih ada dalam sebuah perang dan sangat kuat mengangkat aspek kemanusiaan yang universal ketimbang menekankan aspek agama. Bagi Soegija, kemanusiaan itu adalah satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya. Dalam perang yang paling dikorbankan adalah kemanusiaan. Penjajah maupun terjajah semua kehilangan kemanusiaan dalam dirinya. Dan perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia.
Dikisahkan ketika Jepang datang ke Indonesia di tahun 1942, Mariyem yang terpisah dari kakaknya Maryono akibat perang, kemudian kembali dipertemukan dalam kondisi berbeda. Ling Ling, seorang bocah Tionghoa, juga terpisah dari mamanya, lalu bertemu kembali dalam sebuah momen di gereja. Adanya keterpisahan antara insan manusia itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Rasa kemanusiaan juga dimiliki para penjajah. Nobuzuki, pemimpin tentara Jepang, tak pernah tega pada anak-anak karena ingat anaknya di Jepang. Robert, seorang tentara Belanda yang mengaku dirinya adalah mesin perang yang hebat, tak kuasa ingin segera pulang ke Belanda karena sang ibunda merindukannya. Tokoh yang mengundang tawa juga ditampilkan, seorang bocah yang hanya bisa mengeja kata ‘merdeka’ tapi punya semangat juang dan selalu menjadi garda terdepan pasukan pemuda
Film SOEGIJA ini ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian. Dengan posisinya sebagai uskup, Soegija melakukan diplomasi diam-diam. Saat Hiroshima–Nagasaki di-bom dan masyarakat menuntut kemerdekaan yang belum juga diakui oleh sekutu, Soegija mengirim surat ke Vatikan dan kemudian Vatikan menjadi negara Barat pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia. 
Kisah film ini menyoroti bagaimana agama menyentuh kemanusiaan setiap orang, penjajah maupun terjajah. Dalam film ini Soegija memang tidak terjun langsung untuk berperang, namun di setiap masa, andilnya selalu tampak. Saat penduduk butuh tempat bernaung karena kondisi jalanan chaos, Soegija membuka lebar-lebar pintu gereja untuk menampung mereka. Ia memerintahkan penyaluran makanan lebih dulu untuk rakyat yang kelaparan, baru untuk para imam.
Selain menampilkan kemanusiaan yang beragam, film ini juga banyak menampilkan otokritik untuk bangsa. Baik berupa visual, maupun kata-kata satir dari goresan pena dan ucapan Soegija sendiri. Kata-kata seperti “Apakah yang harus dilakukan seorang pemimpin di tengah krisis dan perubahan zaman?” serta “Apa artinya terlahir sebagai bangsa yang merdeka, jika gagal untuk mendidik diri sendiri?” mengandung makna yang patut dicermati lebih dalam.
“Perjuangan sudah selesai, sekarang tinggal bagaimana menata negara dan melayani masyarakat. Kalau mau jadi politikus, harus punya mental politik. Kalau tidak, yang ada dalam pikirannya hanya kekuasaan dan akan menjadi benalu negara,” pesan Soegija di akhir film itu, seakan menjadi permenungan bagi para pemimpin sekaligus rakyat Indonesia di masa sekarang.
NAMA KELOMPOK        :

  1. ANNISA SELANDIA
  2. CLAUDIA GALUH KUMALASARI
  3. MEGAWATI OKTAVIANI

Wednesday, 2 April 2014

RESENSI NOVEL



Nama Kelompok  :
  1. Annisa Selandia                       19111530
  2. Claudia Galuh Kumalasari       11111683
  3. Megawati Oktaviani                 14111391
Kelas       : 3KA07


Judul Buku /Novel                  : Surat Kecil Untuk Tuhan
Penerbit                                   : Inandra Published
Tahun Terbit                            : 2008
Cetakan                                   : Jakarta,September 2011
Edisi                                        : Ke – 8
Pengarang                               : Agnes Danovar


SURAT KECIL UNTUK TUHAN

Tuhan . . .
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada tangisan didunia ini
Tuhan . . .
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku terjadi pada orang lain
Tuhan . . .
Bolehkan aku menulis surat kecil untuk-Mu
Tuhan . . .
Bolehkah aku memohon satu hal kecil untuk-Mu
Tuhan . . .
Biarkanlah aku dapat melihat dengan mataku
Untuk memandang langit dan bulan setiap harinya
Tuhan . . .
Izinkanlah rambutku kembali tumbuh agar aku bisa menjadi wanita seutuhnya
Tuhan . . .
Bolehkah aku tersenyum lebih lama lagi
Agar aku bias memberikan kebahagiaan kepada ayah dan sahabat-sahabatku
Tuhan . . .
Berikanlah aku kekuatan untuk menjadi dewasa
Agar aku bisa memberikan arti hidup kepada siapapun yang mengenalku
Tuhan . . .
Surat kecilku ini
Adalah surat terakhir dalam hidupku
Andai aku bisa kembali . . .
Ke dunia yang Kau berikan padaku
Itulah untaian kata yang tertera dalam surat kecilnya kepada Tuhan. Agnes Davonar, yang lebih dikenal sebagai cerpenis online mendapat kesempatan untuk menuangkan kisah nyata gadis kecil ini dalam sebentuk karya sastra.

Novel ini menceritakan tentang perjuangan gadis remaja dalam melawan kanker ganas, Rabdomiosarkoma (kanker Jaringan Lunak). Dialah Gita Sessa Wanda Cantika, kita mengenalnya sebagai mantan artis cilik era 1998. gadis kecil inilah tokoh utama dalam novel Surat Kecil Untuk Tuhan yang divonis menderita kanker ganas dan diprediksi hidupnya hanya tinggal 5 hari lagi. Kanker jaringan lunak itu menggerogoti bagian wajahnya sehingga terlihat buruk menjadi seperti monster. Walau dalam keadaan sulit, Keke terus berjuang untuk tetap hidup dan tetap bersekolah layaknya gadis normal lainnya.

Orang tuanya berat mengambil keputusan, bagaimanapun juga sebagai orang tuanya, mereka tidak tega melihat separuh wajah putrinya harus hilang karena operasi. Maka, ayah berserta keluarga merahasiakan kanker itu pada Keke, panggilan gadis remaja aktif dengan sejuta prestasi model dan tarik suara.

Namun akhirnya Keke tau bahwa ia terserang kanker ganas, ia pasrah dan tidak marah pada siapapun yang merahasiakan penyakit maut itu padanya. Ia memberikan senyum kepada siapapun dan menunjukkan perjuangannya bahwa dengan kanker diwajahnya ia masih mampu berprestasi dan hidup normal di bangku sekolah. Tuhan menunjukkan kebesaran hati dengan memberikan nafas panjang padanya untuk lepas dari kanker itu sesaat.

Sang Ayah, Joddy Tri Aprianto tidak menyerah. Ia terus berjuang agar sang putri kesayangannya itu dapat terlepas dari vonis kematiannya. Perjuangan sang ayah dalam menyelamatkan putrinya tersebut begitu mengharukan. Ayahnya berusaha untuk mencari pengobatan alternatif dan berkeliling ke seluruh Indonesia, tapi hasilnya nihil. Mau tak mau ayahnya kembali ke ilmu medis dan menurut dokter, ada satu cara lain yang bisa membunuh kanker itu, kemoterapi.

Perjuangan Keke melawan kanker membuahkan hasil. Dengan segala upaya orang tuanya, Gita mendapatkan kesempatan untuk sembuh setelah bertahan selama 6 bulan melalui kemotrapi untuk membunuh sel-sel kanker yang menggerogoti tubuhnya. Sekali Kemotrapi, mampu merontokkan semua rambut yang ada di tubuhnya, dan tubuh kecil Gita harus menjalaninya hingga 25 kali untuk bisa sembuh.
Kebesaran Tuhan membuatnya dapat bersama dengan keluarga serta sahabat yang ia cintai lebih lama. Kasus kanker ganas yang diidap oleh Gita menjadi kasus pertama yang terjadi di Indonesia dan menjadi sebuah perdebatan di kalangan kedokteran karena kanker tersebut biasa hanya terjadi pada orang tua. Keberhasilan Dokter Indonesia menyembuhkan kasus kanker tersebut menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus membuat semua Dokter di Dunia bertanya-tanya.
Namun kanker itu kembali setelah sebuah pesta kebahagiaan sesaat, Keke sadar nafasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak marah pada Tuhan, ia bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernafas lebih lama dari vonis 5 hari bertahan hingga 3 tahun lamanya.
Kanker itu datang lagi, namun kali ini dengan lokasi berbeda, di pelipis mata sebelah kanan. Kali ini, ayahnya mencoba cara yang pertama, berharap bisa membunuh kanker nakal itu. Kemoterapi pun dilakukan lagi, seluruh rambut Keke rontok tak bersisa. Tapi sepertinya kanker itu mulai kebal dengan bahan kimia. kanker itu tetap duduk manis di pelipis kanan Keke.

Akhirnya ayahnya mencoba pengobatan ke Singapura, disana dokterpun menyarankan untuk operasi. karena desperdo, mereka pun kembali ke Indonesia dengan kondisi Keke yang semakin parah, Kenker itu mulai menyebar ke seluruh tubuh, ke paru-paru, Jantung dan organ-organ lain. satu hal yang membuat aku terharu, dengan kondisi yang begitu parah, semangat belajar Keke sangat tinggi, dia tetap keukeuh untuk sekolah. bahkan disaat tangan dan kakinya sudah tak mampu lagi digerakkan.

Waktupun berlalu dan kondisi Keke tak juga membaik hingga akhirnya dia harus rawat inap lagi di RSCM dan mengalami koma selama tiga hari. Dalam massa opname itu ada berita yang begitu membanggakan baik untuk Keke dan keluarganya bahwa Allah memang memberikan cobaan sesuai kemampuan hambaNya. Keke membuktikan semua itu.”Keke menjadi juara tiga di kelasnya dalam ujian akhir sekolah.”
Lalu, dokter menyerah terhadap kankernya, di nafasnya terakhir ia menuliskan sebuah surat kecil kepada Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada air mata lagi di dunia ini terjadi padanya, terjadi pada siapapun.

Nafasnya telah berakhir 25 desember 2006 tepat setelah ia menjalankan ibadah puasa dan idul fitri terakhir bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya, namun kisahnya menjadi abadi.